Kenali Kebiasaan Buruk yang Bisa Merusak Gigi

Oral habits yang bersifat merusak umumnya menghasilkan tekanan yang dapat mengubah lingkungan fungsional bagi pertumbuhan gigi dan kesehatan gigi.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tekanan yang sangat kecil pun dapat mengubah posisi gigi jika diberikan dalam durasi yang cukup panjang (Rakosi and Graber, 2010).

Kenali Kebiasaan Buruk yang Bisa Merusak Gigi
Salah Satu Perilaku Oral Habits

Oral habit seperti menghisap jari, tongue thrusting, dan bernapas melalui mulut memiliki efek yang besar pada perkembangan rahang dan pola erupsi gigi sehingga dapat menjadi maloklusi.

Kebiasaan-kebiasaan ini dapat menyebabkan tulang alveolar melunak, perubahan pada posisi gigi-gigi dan oklusi. Apabila dibiarkan akan menjadi semakin parah jika kebiasaan ini terus berlanjut dalam jangka waktu yang lama.

(Hiremath, 2007; Dutta dan Sachdeva, 2007). Tentunya akan berbahaya bagi kesehatan gigi.

Baca Juga: Inilah Masalah yang Sering Terjadi pada Gusi – Drg. Intan Kumaladewi  

Berikut merupakan macam-macam kebiasaan buruk :

1. Digit Sucking

Digit-sucking habit merupakan kebiasaan menghisap jari (satu atau beberapa jari) dengan mulut yang umum terjadi pada anak-anak karena memberikan efek ketenangan (Shelov dan Hannemann, 1997).

Biasanya banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kebiasaan ini seperti jenis kelamin bayi, tipe pemberian makanan (ASI atau mengedot botol susu), lamanya pemberian makanan, factor sosial-ekonomi, terpisah oleh orangtua, kesehatan umum dan psikologis.

2. Tongue Thrusting

Tongue thrusting adalah pola oral habits terkait dengan bertahannya pola menelan yang salah selama masa kanak-kanak dan remaja, sehingga menghasilkan gigitan terbuka dan penonjolan segmen gigi anterior.

Nah kebiasaan tongue thrust dapat dibagi ke dalam 4 jenis yaitu (1) genetic; (2) learned behavior (kebiasaan); (3) maturasional; dan (4) fungsional.

3. Mouth Breathing

Menurut Sassouni (1971), mouth breathing didefinisikan sebagai kebiasaan bernapas melalui mulut daripada hidung (Singh, 2007). Dapat disebabkan secara fisiologis maupun kondisi anatomis, dapat juga bersifat transisi ketika disebabkan karena obstruksi nasal. (Kohli, 2010).

4. Bruxism

Bruxism adalah istilah yang digunakan untuk mengindikasikan kontak non-fungsional gigi yang meliputi clenching, grinding, dan tapping dari gigi dapat terjadi selama siang hari atau malam hari dan berlangsung secara sadar dan tidak sadar.

Terjadi dalam kondisi sadar dengan adanya ketidaknormalan fungsi pada otak (Singh, 2007 ; Rosenthal, 2007; Herreradkk., 2006).

Menurut Nadler (1957) membagi etiologi bruxism menjadi empat, yaitu

(1) factor lokal, suatu gangguan oklusal ringan, usaha yang dilakukan pasien tanpa sadar untuk memperbanyak jumlah gigi yang berkontak

(2) factor sistemik, gangguan gastro intestinal, defisiensi nutrisi dan alergi atau gangguan endokrin

(3) factor psikologis, tekanan emosi yang tidak dapat di tunjukan oleh pasien secara tidak sepenuhnya sadar diekspresikan dengan menggeretakkan gigi

(4) factor pekerjaan, seperti para pembuat arloji, orang-orang yang suka mengunyah permen karet, tembakau atau benda lain seperti pensil atau tusuk gigi. (Singh, 2007; Ghom and Mhaske, 2009; Rao 2008).

5. Lip Sucking

Lip sucking merupakan pengganti kebiasaan menghisap jari (Gartika, 2008). Kebiasaan ini juga dapat terjadi dalam bentuk lip wetting (Karacaydkk., 2006).

Beberapa hal yang dapat menyebabkan kebiasaan buruk menggigit bibir adalah kemunduran mental, psikosis, gangguan karakter, sindrom genetik, dan neuropati sensori congenital (Karacaydkk., 2006)

6. Cheek Biting

Cheek biting adalah kebiasaan menggigit bagian dalam pipi secara spontan. Pasien yang menderita cheek biting biasanya tidak dapat mengendalikan diri setiap kali mulai menggigit pipi.

Kebanyakan penderita tidak menyadari bahwa kebiasaan ini dapat meyebabkan kerusakan serius pada mukosa pipi bagian dalam sampai terjadi perlukaan yang menimbulkan nyeri yang sangat mengganggu (Khan, 2010).

Beberapa penyebab cheek biting yaitu:

(a) gigi yang tajam atau runcing,

(b) erupsi gigi bungsu,

(c) iatrogenic

(d) penyebab lain seperti stress (kecemasan), efek samping dari teeth grinding, kelainan TMJ, kelainan penutupan rahang, dan disfungsi otot.

Pada dasarnya mencegah memang lebih baik dari pada mengobati, terutama dalam urusan kesehatan gigi.

Informasi Konsultasi & Reservasi :

Baca Juga :

Kenapa Ya Gigi Anak-anak Mudah Berlubang? – Drg. Indah Desvina

Mengenal Lebih Jauh Tentang Perawatan Veneer – Drg. Cindy Lestari

Sumber Referensi :

  • Bishara  SE, 2001, Textbook of Orthodontics, Philadelphia: Saunders Company.
  • Faria PTM, Ruellas ACO, Matsumoto MAN, Anselmo-Lima WT, Pereira FC. 2002.
  • Morphology of Mouth Breathing Children. Braz Dent J. 13(2): 129-132.
  • Finn SB. 1962. Clinical Periodonsia. 2Ed. Philadelphia. London: W.B. SaundersCompany.
  • Foster TD. 1993. Buku Ajar Ortodonti (terj.). Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.Gartika M. 2008.

Posted

in

, ,

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *